Selasa, 12 Januari 2010

Perpisahan

Perpisahan seringkali mendatangkan kesedihan yang mendalam. Apalagi jika kita akan meninggalkan atau ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai. Ada perasaan berat, sedih, bahkan tidak sedikit yang putus asa. Beberapa orang yang mengalami kepedihan ini kadang menuangkannya dalam bait-bait puisi perpisahan.

Puisi perpisahan I
PERPISAHAN ~ Kahlil Gibran
Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.
Betapa bijak Gibran menyikapi sebuah perpisahan. Makna mendalam, mengingatkan kita untuk tidak terus berduka dengan perpisahan. Justru, jarak yang memisahkan membuat kita melihat segala sesuatu  dengan lebih indah.

Puisi perpisahan II
 Bagaimana Bisa ~ Yustitia

Bagaimana mungkin
Mentari berkabung dalam selimut gelap
Sedang tak satupun angin bersenandung
Ratap perih menggema dalam kotak sunyi berduri
Ingin pergi
Ingin lalui
Namun tak satupun kuda hendak bergeming
Hanya diam
Tak bicara

24 januari 2009

Pada  puisi perpisahan di atas, penyair sepertinya tidak menghendaki perpisahan. Gambaran kehidupan menjadi lebih gelap tergambar didalamnya. Ada keinginan untuk menyudahi perpisahan tersebut, namun apalah daya, ia tidak kuasa melakukannya.

Puisi perpisahan III
 Keseorang ~  iben nuriska
Masih saja basah. Sepertinya puisi tak hendak
sampai ke tidur tak berigau ke jaga yang bara.
Api masih dipadamkan hujan.
Tak ada puisi bunga.
Selalu angin bawa awan hitam
di gantungan jemuran.
Masih saja basah.

Kapan kita akan bersajak
Seperti muda yang gagah
Seperti jelita dengan pesona
Seperti cinta dan asmara
Seperti wangi dari dupa

Mungkin pergimu adalah isyarat
Takkan dewasa anak selamanya dikepit ketiak.

Batu belah 110109

Pada puisi perpisahan ini, penyair menyatakan kesedihan dan luka mendalamnya dengan perpisahan. Tidak ada lagi masa untuk bersenang bersama orang yang dikasihinya. Namun ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sini, bahwa seorang anak jika selamanya dalam pengawasan kedua orang tuanya. Bagaikan pohon besar yang tumbang, maka pohon-pohon kecil yang tumbuh dibawahnya akan berkembang lebih cepat. Begitu pula manusia, kedewasaan itu akan terbentuk manakala tidak ada orang tua yang menaunginya.

Puisi Perpisahan IV
KEPASTIAN ~  ' Gus Fet

Perpisahan adalah kepastian
Waktu berjalan, tak bisa di mundurkan
Berjalan pelan, tak bisa dimajukan

Kematian adalah keniscayaan
Tak bisa di tolak, tatkala ia datang
Tak bisa diminta, takala hidup bosan

Perpisahan...oh...kepastian
Kematian...oh...keniscayaan
Janji tuhan, pasti datang
 Hari akhir adalah janji tuhan
Tak mengerti, waktunya kapan datang
Tak tahu diterima, nikmat atau siksaan
Perpisahan adalah kepastian
Kematian adalah keniscayaan

Pada puisi perpisahan yang bertajuk 'Kepastian' ini, penyair mengingatkan kita akan sebuah kepastian yang tidak seorangpun bisa menolaknya, yaitu : perpisahan dan kematian. Betatapun kita tidak menyukai kedua hal ini, namun inilah kehendakNya. Siapapun tidak bisa mengubahnya, maupun mengetahui kapan persis waktunya.

2 komentar:

  1. bagus_bagus puisinya.......

    BalasHapus
  2. kapan_kapan ganti puisi tentang pertemuan dengan sahabat sejati ea.........???????

    BalasHapus