Selasa, 27 Januari 2009

Obama


Barack Obama, siapa yang tak kenal dengan namanya.Seorang presiden Amerika Serikat yang menang dari partai Demokrat.Beliau biasa di panggil Bary semasa kecilnya, namun setelah beliau dewasa di panggil Barack dari serangkai nama lengkap Barack Hussein Obama namun lebih umum dengan Barack Obama.
Menurut berita yang berkembang di media, presiden Amerika Serikat ini pernah tinggal di Indonesia tepatnya di Menteng Jakarta.
Tapi apakah beliau bisa berbahasa Indonesia?
Jawabannya “bisa”.
Washington, Kamis - Presiden AS Barack Obama menyapa menggunakan bahasa Indonesia dengan salah seorang diplomat AS yang pernah bertugas di Indonesia. Perbincangan pendek tersebut terjadi pada saat Obama mengunjungi Departemen Luar Negeri AS pada hari kedua masa jabatannya, Kamis (23/1) di Washington.
Latar belakang Obama sebagai minoritas akan membuatnya lebih bisa menyadari akan adanya keragaman. Masing-masing orang memiliki nalar dan kebajikannya sendiri. Nilai kebenaran tidak pernah tunggal, melainkan beragam. Obama akan lebih mudah merayakan keberagaman, ketimbang mencurigainya. Inilah keistimewaan kalangan minoritas yang berhasil menjadi pemimpin.
Obama tampil sebagai pemimpin yang mengusung nilai-nilai liberalisme dan pluralisme. Dalam pidato kemenangannya, Obama tidak segan menyapa semua warga Amerika: yang berkulit putih maupun hitam, yang perempuan maupun laki-laki, para agamawan, kaum gay maupun lesbian, para difable, dan seterusnya. “Kita semua adalah warga Amerika Serikat,” tegas Obama.

Berbicara Obama dan Indonesia,rupanya obama juga menyukai masakan Indonesia seperti bakso, nasi goreng dan rambutan.
Wah bisa jadi kalo Obama datang lagi ke Indonesia, bakul – bakul bakso pada buka besar-besaran nih…
Heee
Terus pedagang nasi goreng pada buka kios dan pedagang rambutan pada saling gelar rambutan..
Hmmmmmm
Itu semua cuma lelucon biasa, tapi yang kini menjadi persoalan adalah Obama yang kini telah resmi menjadi presiden Amerika Serikat, apakah menguntungkan bagi bangsa Indonesia? Atau malah akan berbahaya bagi Ideologi bangsa kita?
Apapun itu kita rakyat kecil tak tahu apa-apa, semoga saja kedua negara antara Indonesia dan Amerika Serikat dapat menjalin kerja sama yang baik dan tidak merugikan salah satu pihak, karena semua itu juga akan berdampak pada bangsa Indonesia.

Gembala Kecil


Sembilan tahun yang lalu, seorang gembala kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar selalu menggembala 21 kambing dengan senangnya.
Sepulang sekolah sang gembala bergegas makan siang dan mempersiapkan segala sesuatunya yang akan di bawa dalam pengembalaan sebagai bekal di perjalanan. Kambing – kambingpun telah siap untuk berpetualang bersama gembala kecil.
Diikatnya tali panjang ke leher satu kambing induk sebagai panutan 20 kambing – kambing lainnya. Dituntun di paling depan kambing induk dan dua puluh kambing lainya berderet mengikuti sang penuntunya.
Sungguh indah jika kita dapat menyaksikan perjalanan yang amat mengharukan.
Sesampainya di tempat pengembalaan,.sang gembala kecil mengumbar dan membiarkan kambing-kambingnya makan rumput sesuka hati.Sambil menunggu ternak piaraannya kenyang , sang gembala kecil pencari rumput hijau untuk di masukan ke dalam karung dan nantinya akan di bawa pulang sebagai makanan 21 kambingnya di waktu malam.
Sesudah itu sang gembala tak membiarkan waktunya untuk duduk manis melihat kambing – kambingnya, akan tetapi mempergunakan waktu dengan belajar, mengerjakan tugas sekolah dan membaca pelajaran yang telah di berikan.
Sungguh mengagumkan bukan.Anak kecil yang masih duduk di bangku SD bisa mengembala kambingnya sambil belajar.
Membaca cerita ini, kita jadi ingat pepatah “sambil menyelam minum air”
Sang gembala telah melaksanakan beberapa kegiatan dalam satu waktu, di dalam pengembaraan sang gembala kecil bisa belajar, bisa mencari rumput dan tentunya kambing – kambingnya pun jadi kenyang.
Kegiatan pengembalaan di lakukan setiap pulang sekolah. Sang gembala kecil ini bisa bersekolah juga dari hasil pengembalaanya.Dengan kambingnya dia bisa bertahan sekolah sampai bangku SMA.
Waktu semakin sore, sang mentaripun sudah mulai terbenam, dengan bergesernya waktu , sang gembala kecil bersiap-siap untuk pulang.
Dipanggulnya karung berisi rumput sambil menuntun kambing piaraannya.
Sampai juga di rumah, kambing segera di masukan dalam kandang dan di persiapkan untuk makan rumput yang telah di sediakan.
Selesai sudah pengembaraan sang gembala kecil, dengan itu merawat dan membersihkan diri dari debu dan keringat yang menempel dalam tubuhnya.
Sungguh aku terharu dengan masa kecilku, bisa menjadi seorang gembala, namun kini aku telah berada di pusat kota, dan tak lagi bersama piaraan yang telah menjadi tulang pendidikan di waktu kala.
Ternakpun kini telah tiada, telah habis dimakan usia dan telah hilang di makan pasar.
Itu semua adalah sekelumit cerita tentang masa kecilku sebagai sang gembala kecil di sembialn tahun yang lalu.

Senin, 12 Januari 2009

Gadis Kecil Pengamen Jalan

Mainan, uang dan pelajaran

Beberapa hari yang lalu ku temui seorang gadis kecil, berlari mengejar sebuah angkot yang ku tumpangi, dengan lunglai gadis kecil itu berlari kencang hingga ahirnya berada tepat di bibir pintu angkot.

Sejenak aku berfikir mau apakah gadis kecil itu.
Rupanya gadis kecil itu duduk di pintu angkot dengan manisnya sambil memukul-mukulkan mainan kecil ke tangannya, serentak berbunyinya mainan,

gadis kecil itu mengiringinya dengan sebuah lagu.

Entah apa yang sedang difikirkannya, gadis kecil itu tak lepas-lepasnya melemparkan bola matanya kepadaku.

Aku pun tertegun, seolah biasa didepannya.
Pandangan gadis kecil yang begitu mengaharapkan sebuah pemberian terus mengarah.

Aku menjadi sangat iba melihatnya, sayang aku tak dapat berbuat banyak untuk nya, rupanya hanya rupiah kecil yang dapat ia terima.

Sungguh malang jalan hidupnya, kini anak kecil yang masih di bawah umur harus membantingkan tulangnya untuk mencari uang sebagai bekal pengganjal lambungnya.

Gadis kecil yang masih sangat muda belia dengan sangat terpaksanya harus menghabiskan hari-harinya di jalan.

Tak seharusnya gadis cantik yang berusia dini itu memikirkan masalah uang,
Gadis kecil semasa itu seharusnya masih sedang dalam usia bersama kawan, merasakan asyiknya bermain, bergurai bersama teman, bercanda menghabiskan tawa dan tentunya masih harus belajar menuntut ilmu.

Tapi kehidupan berkata lain, dia tidak harus mengahabiskan masa kecilnya untuk bermain bersama teman, tapi harus memperjuangkan hidupnya dengan berupaya menjadi pengamen jalan untuk mencari makan.

Selepasnya dia menerima rupiah, dia turun dengan girangnya, namun aku merasa sangat kasihan padanya , meski aku tak dapat berbuat apa-apa, namun aku berdoa semoga dia akan mendapatkan rejeki sebagai modal hidupnya.

Kejadian ini memberikan pelajaran bagiku , agar mencintai sesama, mengasihi, menolong dan membantu yang lemah.

Meski kita lemah namun ada yang lebih lemah dari kita , apa salahnya kita membantunya.

Dari peristiwa ini pula dapat diambil pelajaran, betapa susahnya orang mencari bekal hidup, dan dari situ kita akan berhati – hati dalam membelanjakan uang.

Semoga kita bukanlah orang – orang yang senang menghambur-hamburkan uang, lebih baik kita sedekahkan sebagian uang kita untuk mereka dari pada harus kita gunakan untuk hal-hal yang sia-sia.

Begitu bukan??
Katakan saja seratus rupiah yang kita berikan untuk mereka yang setiap hari hidup di jalanan akan sangat berguna bagi mereka dan tentunnya juga akan membawa berkah bagi kita karna telah menolong sesama.

Amin.

Minggu, 11 Januari 2009

SEDEKAH BUMI

Sedekah Bumi

Suatu tradisi yang dilakukan oleh orang yang punya mata pencaharian bertani,berkebun, beternak, dll artinya hidup dari hasil bumi adalah melaksanakan suatu tradisi yang biasa orang kenal dengan “sedekah bumi”.

Proses tradisi yang dilakukan di salah satu desa di Bantarsari berbeda – beda, salah satunya adalah mereka warga desa berkumpul dalam suatu tempat untuk melaksanakan tradisi itu.

Mereka berkumpul membawa setenggok atau senampan makanan hasil bumi yang telah dimasak untuk di kumpulkan dalam suatu tempat yang telah dipersiapkan, misalnya di musolha atau di rumah pak RT.

Tradisi ini biasanya dan kebanyakan di laksanakan pada satu Muharom ( islam) atau satu Suro ( jawa )

Sebenarnya sama saja, tradisi ini di maksudkan sebagai ungkapan syukur kepada sang pencipta jagat raya atas kemurahannya dalam memberikan rizki pada manusia.

Dalam tradisi ini ada beberapa moment, salah satu dari moment itu adalah do’a bersama, mereka berdo’a pada sang pencipta jagat raya agar tetap dan selalu melimpahkan rahmatnya pada mereka.

Selain itu mereka juga melaksanakan makan bersama, menikmati lezadnya masakan dari hasil bumi secara bersama-sama.

Di samping itu, dengan adanya tradisi yang seperti ini, juga di maksudkan untuk menjaga rasa kebersamaan antar anggota masyarakat.

Tak kalah menariknya untuk di ceritakan adalah tentang masakan yang di bawa ( yang telah di kumpulkan ), tentu kita bertanya untuk apa sih makanan yang telah di masak dan dikumpulkan itu?

Ringkasnya seperti ini, menurut saksi dan pelaku yang ikut melaksanakan sedekah bumi ini, hasil bumi yang telah dimasak dan telah terkumpul itu akan di tukar, maksudnya makanan satu dengan masakan lain itu di tukar-tukar hinga akhirnya masing – masing orang nantinya akan membawa pulang masakan hasil tukar-menukar itu dan dapat menikmati masakan orang lain.

Ibaratnya itu saling tukar menukar masakan hasil bumi.

Unik bukan????

Satu lagi yang tidak boleh ketinggalan untuk diceritakan adalah membagikan makanan satu takir (satu menu) kepada anak-anak desa, khususnya bagi mereka yang kurang mampu.

Tradisi ini tidaklah diharuskan kepada setiap warga desa, karena kondisi yang tidak bisa di paksa.

Bagi mereka yang punya ladang bertani, berkebun, beternak dll sangatlah diharuskan untuk sedekah bumi.

Namun bagi warga yang kurang mampu tidak diharuskan mengikuti tradisi ini malah justru akan mendapatkan sedekah dari orang-orang yang bersedekah dan tentunya sedekah itu dalam bentuk makanan yang telah matang dan siap untuk di hidangkan.

Itulah sekelumit cerita tentang sedekah bumi, yang di lakukan sebagai ungkapan syukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa.