Kamis, 19 Maret 2009

Gagal Kunjung Kampung Laut

Peristiwa ini sudah jatuh pada masa sekitar tiga tahun yang lalu, namun cerita itu membuatku teringat seorang teman yang mengawali sebuah kebersamaan yang sampai saat ini masih berada dalam ikatan persahabatan.

Tepatnya di Kawunganten, suatu ketika kami, sebut saja rohmat, sidik, andri dan saya sendiri berencana melakukan perjalanan ke kampung laut.
Hari pun tiba, fajar pun terbit memancarkan sinarnya dan menyinari muka bumi menurut bagiannya.
Kami pun mengayuhkan sepeda untuk menuju ojek yang akan kami kunjungi, halaman kampung itu pun mulai tampak, namun perjalanan kami tak mampu di jangkau dengan kendaraan yang kami gunakan. Dengan semangat tinggi akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan dengan melangkahkan kaki.

Perjalanan yang kami lalui menelusuri semak belukar, got, dan perkebunan minyak kai putih. Sungguh, dalam perjalanan itu begitu melelahkan, namun karena persahabatanlah yang membuat kami riang dan senang.
Sang raja siang pun beranjak naik dan kami belum menyentuh bibir kampung laut.
Di selahnya lorong-lorong got di bawah pepohonan rindang kami sempet melihat di sudut semak ada sebuah perairan, kami berlima pun bergegas kesana.
Sesampainya di sana kami menemui sebuah sungai yang amat besar dan kami sempat berembug akan tempa itu, kami berempat mengira tempat itu adalah halaman pintu kampung laut.
kami pun menelusurinya sepanjang tepi sungai itu, namuan apakah yang terjadi?
Semakin jauh kami melangkah di sepanjang tepi sungai ternyata kami semakin tersesat dalam perjalanan.
kami baru nyadar kalu perjalanan kami tersesat saat bertemu dengan sepasang petani keong (thothok).
Mereka menyarankan kami untuk kembali ke ke rumah dan membatalkan perjalanan yang amat berbahaya.
Mereka bilang hari sudah mulai petang, pasang akan segera tiba.
Sejenak kami sangat ketakutan, akhirnya kami berempat membatalkan perjalanan itu dan kembal;i pelacak bekas telapak kaki yang telah kami lalui untuk segera pulang.

Akhirnya kami pun pulang, dan sampai juga di tempat penitipan sepeda.
Di sana kami istirahat dan membahas ptualangan yang amat melelahkan dan memberikan pengalaman penelusuran tempat yang kaya gituan.

Diselahnya pengistirahatan kami, salah satu dari kami berempat berinisiatif untuk membuat sate dari thothok ( kerang besar ).
Kami pun setuju melaksanakan ide itu, karena kami lapar dan tidak membawa bekal.
Ada yang mempersiapkan tusuk sate, ada yang beli bumbu, ada yang menyiapkan api dan ada juga yang menyiapkan daging kerang itu.

Sate pun siap di masak, kami berempat kerjasama memasak sate itu.
Ah, tak bisa lama-lama rupanya, rupanya perut kami sudah keroncongan.
Ya sudahlah semua sate kami sikat dan habis sejenak.

Kami pun meninggalkan tempat itu dengan cukup lelah.
Ya sudah lah akhirnya kami berencana untuk melaksanakan pendakian di gunung Kawunganten di esok hari.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

kampung laut yg di kabupaten cilacap kan??

aku pernah denger tuh

katanya sih tempatnya enak
hmmlam knala aja

Poskan Komentar