
Sembilan tahun yang lalu, seorang gembala kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar selalu menggembala 21 kambing dengan senangnya.
Sepulang sekolah sang gembala bergegas makan siang dan mempersiapkan segala sesuatunya yang akan di bawa dalam pengembalaan sebagai bekal di perjalanan. Kambing – kambingpun telah siap untuk berpetualang bersama gembala kecil.
Diikatnya tali panjang ke leher satu kambing induk sebagai panutan 20 kambing – kambing lainnya. Dituntun di paling depan kambing induk dan dua puluh kambing lainya berderet mengikuti sang penuntunya.
Sungguh indah jika kita dapat menyaksikan perjalanan yang amat mengharukan.
Sesampainya di tempat pengembalaan,.sang gembala kecil mengumbar dan membiarkan kambing-kambingnya makan rumput sesuka hati.Sambil menunggu ternak piaraannya kenyang , sang gembala kecil pencari rumput hijau untuk di masukan ke dalam karung dan nantinya akan di bawa pulang sebagai makanan 21 kambingnya di waktu malam.
Sesudah itu sang gembala tak membiarkan waktunya untuk duduk manis melihat kambing – kambingnya, akan tetapi mempergunakan waktu dengan belajar, mengerjakan tugas sekolah dan membaca pelajaran yang telah di berikan.
Sungguh mengagumkan bukan.Anak kecil yang masih duduk di bangku SD bisa mengembala kambingnya sambil belajar.
Membaca cerita ini, kita jadi ingat pepatah “sambil menyelam minum air”
Sang gembala telah melaksanakan beberapa kegiatan dalam satu waktu, di dalam pengembaraan sang gembala kecil bisa belajar, bisa mencari rumput dan tentunya kambing – kambingnya pun jadi kenyang.
Kegiatan pengembalaan di lakukan setiap pulang sekolah. Sang gembala kecil ini bisa bersekolah juga dari hasil pengembalaanya.Dengan kambingnya dia bisa bertahan sekolah sampai bangku SMA.
Waktu semakin sore, sang mentaripun sudah mulai terbenam, dengan bergesernya waktu , sang gembala kecil bersiap-siap untuk pulang.
Dipanggulnya karung berisi rumput sambil menuntun kambing piaraannya.
Sampai juga di rumah, kambing segera di masukan dalam kandang dan di persiapkan untuk makan rumput yang telah di sediakan.
Selesai sudah pengembaraan sang gembala kecil, dengan itu merawat dan membersihkan diri dari debu dan keringat yang menempel dalam tubuhnya.
Sungguh aku terharu dengan masa kecilku, bisa menjadi seorang gembala, namun kini aku telah berada di pusat kota, dan tak lagi bersama piaraan yang telah menjadi tulang pendidikan di waktu kala.
Ternakpun kini telah tiada, telah habis dimakan usia dan telah hilang di makan pasar.
Itu semua adalah sekelumit cerita tentang masa kecilku sebagai sang gembala kecil di sembialn tahun yang lalu.

1 komentar:
ow jadi anda mantan seorang gembala ??
gpp bagus itu , pekerjaan itu patut di contoh oleh para pengembala lainnya,
dengan begitu kan bisa mendapatkan uang sebagai modal pendidikan, dengan begitu bisa sekali mendayung 2,3 pulau terlampaui,
iya kan
dengan itu bisa sambil belajar, bisa selesai dlm pekerjaan.
salut deh ma u.
Poskan Komentar